Rabu, 04 Mei 2011

Bertambah usia dalam hitungan kita, berkurang dalam hitungan Allah azza wa jalla ! Penulis : Abu Abdillah Ahmad [Bhima Wahana]

Sesungguhnya segala puji hanyalah milik Allah, kita memuji-Nya dan memohon ampunan-Nya, dan kita berlindung dari kejahatan diri kita sendiri dan keburukan amal kita. Barangsiapa yang Allah beri petunjuk padanya maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa disesatkan-Nya maka tidak ada yang dapat memberi petunjuk kepadanya. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah yang tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad (adalah) hamba-Nya dan Rasul-Nya – shalawat atas beliau dan salam -.

Hari ini, minggu ke empat di bulan Jumadil Awal atau tepat nya tanggal 18 Jumadil Awal 1432 H, atau tanggalan masehi tanggal 22 April 2011, tak terasa umurku sudah berkurang satu tahun. Bertambah usia dalam hitungan manusia, tapi berkurang dalam hitungan Allah azza wa jalla. Tak terasa sudah 29 tahun ku berada di dunia ini. Banyak lika liku hidup yang telah aku lalui, senang, sedih, gembira, jatuh bangun dalam menapaki dunia yang fana ini.

Berbicara mengenai salah satu kegembiraan dan kebahagiaan dalam hidupku adalah di awal Desember tahun 2010 tepat nya tanggal 2 Desember 2010 atau tanggal 26 Dzulhijjah 1431 H, Alhamdullilah sudah aku sempurnakan separuh agama ku. Yaitu dengan menikah.

Seperti dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik radliyallahu ‘anhu berkata, telah bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang artinya: “Barangsiapa menikah, maka ia telah melengkapi separuh dari agamanya. Dan hendaklah ia bertaqwa kepada Allah dalam memelihara yang separuhnya lagi”. [HR : Thabrani dan Hakim]. Semoga keluarga kecil kami menjadi keluarga yang sakinah, mawadah dan warrohmah dan selalu dalam lindungan- Mu ya Rabb.

Puji syukur ya Rabb atas begitu banyak nikmat yang telah-Kau berikan kepada hamba-Mu yang dhaif ini. Atas nikmat iman, nikmat Islam, nikmat sehat dan nikmat sunnah. Sesungguhnya begitu banyak nikmat yang kau berikan sehingga kita sebagai hamba tidak akan mampu menghitung nikmat-Mu yang tak terhingga jumlahnya. Allah berfirman dalam [Q.S. Ibrahim : 34] ”Dan Dia (Allah) telah memberikan kepadamu segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya, sungguh manusia itu sangat zhalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).”

Mengenai usia sesungguhnya terkait dengan rangkaian waktu yang di jalani oleh seorang hamba di dunia. Waktu yang sesungguhnya sangat singkat di dunia. Dunia pada dasarnya bukanlah sesuatu yang harus dijauhi. Namun dunia bisa menjadi penghalang untuk bisa sampai kepada Allah.

Betapa banyak kaum muslimin yang tertipu dengan gemerlap dunia sehingga lupa akan tujuan penciptaannya. Ironisnya mereka tidak menyadari hal tersebut dan ketika dirinya ditanya, “Apakah yang engkau inginkan, dunia ataukah akhirat?” Serentak dirinya menjawab, “Saya menginginkan akhirat!”

Padahal keadaan dirinya menjadi saksi atas kedustaan ucapannya tersebut. Allah berfirman, “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” [Q.S. Ali Imran: 14]

Demikianlah watak asli manusia, sehingga tidak ayal lagi hal itulah yang banyak menjerumuskan manusia sehingga hatinya terkait dengan dunia padahal tidak dipungkiri lagi keterkaitan hati dengan dunia merupakan fitnah sekaligus musibah yang menimpa umat ini.

Bagaimana menyikapi dunia yang di jalani hanya sementara ini disebutkan dalam suatu riwayat hadist, dari Ibnu Umar radhiallohu ‘anhuma beliau berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memegang kedua pundakku seraya bersabda, “Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau musafir.” Ibnu Umar berkata: “Jika engkau berada di sore hari jangan menunggu datangnya pagi dan jika engkau berada pada waktu pagi hari jangan menunggu datangnya sore. Pergunakanlah masa sehatmu sebelum sakit dan masa hidupmu sebelum mati.” [HR. Bukhari].

Sesungguhnya manusia (Adam) memulai kehidupannya di surga kemudian diturunkan ke bumi ini sebagai cobaan, maka manusia adalah seperti orang asing atau musafir dalam kehidupannya. Kedatangan manusia di dunia (sebagai manusia) adalah seperti datangnya orang asing. Padahal sebenarnya tempat tinggal Adam dan orang yang mengikutinya dalam masalah keimanan, ketakwaan, tauhid dan keikhlasan pada Allah adalah surga.

Nabi Adam diusir dari surga adalah sebagai cobaan dan balasan atas perbuatan maksiat yang dilakukannya. Jika engkau mau merenungkan hal ini, maka engkau akan berkesimpulan bahwa seorang muslim yang hakiki akan senantiasa mengingatkan nafsunya dan mendidiknya dengan prinsip bahwa sesungguhnya tempat tinggalnya adalah di surga, bukan di dunia ini.

Betapa indah perkataan Ibnu Qoyyim rahimahullah ketika menyebutkan bahwa kerinduan, kecintaan dan harapan seorang muslim kepada surga adalah karena surga merupakan tempat tinggalnya semula. Lantas apakah hakikat kita diciptakan oleh Allah azza wa jalla. Allah berfirman dalam Q.S. Adz-Dzaariat ayat : 56 yang artinya : "Dan tidak Aku ciptakan jin dan manusia melainkan mereka beibadah kepada-Ku."

Kehidupan lawan nya adalah kematian sebab muara dari kehidupan seorang hamba di dunia adalah berujung kepada kematian. Sebagai seorang hamba, kita tidak pernah tahu kapan kematian akan menjemput kita, apakah detik ini, menit ini, jam ini, hari ini, atau esok, hanya Allah yang maha tahu atas peristiwa ini, salah satu peristiwa besar dalam kehidupan seorang hamba yaitu kematian. Dan dengan cara apa kita akan menghadapi kematian. Apakah suul khatimah atau khusnul khatimah. Tergantung jalan mana yang akan kita pilih hingga ajal menjemput kita.

Allah berfirman, "Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal." [Q.S. Luqman 31 : 34]

Allah berfirman, "Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." [Q.S. Al-Munafiqun, 63:11]

Allah berfirman, "Katakanlah: Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”. [Q.S. Al-Jumu’ah, 62:8]

Allah berfirman, "Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendati pun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh, dan jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan: “Ini adalah dari sisi Allah”, dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana mereka mengatakan: “Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad)”. Katakanlah: “Semuanya (datang) dari sisi Allah”. Maka mengapa orang-orang itu (orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikit pun?" [Q.S. An-Nisa 4:78]

Dalam suatu hadist disebutkan dasyatnya seseorang dalam menghadapi sakratul maut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kematian yang paling ringan ibarat sebatang pohon penuh duri yang menancap di selembar kain sutera. Apakah batang pohon duri itu dapat diambil tanpa membawa serta bagian kain sutera yang tersobek ?” [HR. Bukhari]

Dalam Al- Quran juga tergambar bagaimana seseorang menghadapi sakratul maut. Untuk orang orang yang dzalim digambarkan :

Allah berfirman, "Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakratulmaut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata): “Keluarkanlah nyawamu”. Di hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya." [Q.S. Al-An’am 6:93]

Allah berfirman, "(Yaitu) orang-orang yang dimatikan oleh para malaikat dalam keadaan berbuat lalim kepada diri mereka sendiri, lalu mereka menyerah diri (sambil berkata); “Kami sekali-kali tidak mengerjakan sesuatu kejahatan pun”. (Malaikat menjawab): “Ada, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang telah kamu kerjakan”. Maka masukilah pintu-pintu neraka Jahanam, kamu kekal di dalamnya. Maka amat buruklah tempat orang-orang yang menyombongkan diri itu." [Q.S. An-Nahl, 16 : 28-29]

Sedangkan untuk orang yang bertakwa. Dan dikatakan kepada orang - orang yang bertakwa : “Apakah yang telah diturunkan oleh Tuhanmu?” Mereka menjawab: “(Allah telah menurunkan) kebaikan”. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini mendapat (pembalasan) yang baik. Dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik dan itulah sebaik-baik tempat bagi orang yang bertakwa, (yaitu) surga Adn yang mereka masuk ke dalamnya, mengalir di bawahnya sungai-sungai, di dalam surga itu mereka mendapat segala apa yang mereka kehendaki. Demikianlah Allah memberi balasan kepada orang-orang yang bertakwa. (yaitu) orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan (kepada mereka): “Assalamu alaikum, masuklah kamu ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan”. [Q.S. An-Nahl, 16 : 30-31-32]

Pada dasarnya seorang hamba menginginkan kebaikan bagi dirinya dan keluarganya baik di dunia dan di akhirat. Ingin memberikan yang terbaik untuk orang yang disayang dan keluarga nya. Seorang suami ingin menjadi yang terbaik untuk istrinya, begitupula sebaliknya, seorang istri ingin menjadi yang terbaik untuk suaminya. Kemudian seorang anak ingin menjadi anak yang bisa dibanggakan oleh kedua orang tuanya dan masyarakat, serta agamanya.

Dari sisi penghambaan kepada Rabb nya, setiap orang ingin menjadi hamba yang taat dalam menjalankan perintah-Nya dan taat dalam menjauhi larangan-Nya. Namun hidup di zaman yang penuh fitnah ini. Hal untuk melaksanakan ketaatan bagi seorang hamba tidak segampang membalikan telapak tangan. Serbuan arus globalisasi menghujam jantung pertahanan seorang muslim. Tipu daya setan meluluh lantahkan ketaatan seorang hamba yang menghantarkan kepada jurang kebinasaan.

Lantas apa yang menjadi pegangan kita ya Rabb dalam menghadapi itu semua.

Rasulullah bersabda: “Aku tinggalkan dua perkara untuk kalian. Selama kalian berpegang teguh dengan keduanya tidak akan tersesat selama-lamanya, yaitu Kitabullah dan Sunnahku. Dan tidak akan terpisah keduanya sampai keduanya mendatangiku di haudh (Sebuah telaga di surga,).” [HR. Imam Malik secara mursal (Tidak menyebutkan perawi sahabat dalam sanad) Al-Hakim secara musnad (Sanadnya bersambung dan sampai kepada Rasulullah ) – dan ia menshahihkannya-) Imam Malik dalam al-Muwaththa’ (no. 1594), dan Al-HakimAl Hakim dalam al-Mustadrak (I/172).

Allah berfirman, “Dan tidaklah patut bagi laki - laki maupun perempuan mu’min, apabila Allah dan Rasul-Nya menetapkan suatu ketetapan dalam urusan mereka, mereka memilih pilihan lain. Barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, sungguh, dia telah nyata-nyata sesat.” [Q.S. Al Ahzab: 36]

Ya berpegang dengan Al-Quran dan Sunnah jalan keluar dalam mengarungi hidup ini yang penuh dengan tipu daya. Pelajari Al Qur’an dan Hadist dan pahami dengan pemahaman yang benar. Beragamalah dengan cara beragama yang benar. Sesuai dengan yang Nabi Muhammad ajarkan. Masuklah kedalam Islam secara kaffah wahai Saudara ku. Pelajari Islam dengan baik.

Namun sangat disayangkan, begitu banyak orang yang lebih mengutamakan ilmu dunia, di bandingkan ilmu agama. Begitu pula orang tua terhadap anak – anak nya. Orang tua merasa lebih khawatir semisal anak – anak nya tidak bisa berbahasa Inggris atau komputer di bandingkan dengan membaca Al Qur-an. Akibatnya ayat – ayat lantunan Al Qur-an menjadi asing dan tidak bermakna di telinga dan hati mereka. Yang sekarang ini lantunan ayat – ayat suci Al Qur’an tergantikan dengan nyanyian – nyanyian musik yang hampir menghiasi sepanjang aktivitas mereka. Maka keluarlah dari mulut – mulut mereka tidak bisa hidup tanpa musik. Naudzu billah min dzalik.

Allah berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman (sempurna imannya) ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Allahlah mereka bertawakkal (berserah diri).” [Q.S. Al-Anfaal: 2]

Sesungguhnya sebagai orang tua nanti kita akan di minta pertanggung jawaban atas apa yang dipimpinnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Semua kamu adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya. Seorang imam (amir) pemimpin dan bertanggung jawab atas rakyatnya. Seorang suami pemimpin dalam keluarganya dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya. Seorang isteri pemimpin dan bertanggung jawab atas penggunaan harta suaminya. Seorang pelayan (karyawan) bertanggung jawab atas harta majikannya. Seorang anak bertanggung jawab atas penggunaan harta ayahnya." [HR. Bukhari dan Muslim].

Lantas sudah siapkah nanti kita akan di minta pertanggungjawabkan atas apa yang kita pimpin. Suami terhadap anak dan istrinya dan keluarganya. Sudahkah membimbingnya dengan ajaran Islam yang kaffah.

Semoga kita bisa dikuatkan untuk membimbing keluarga kita selalu dekat dengan Allah, dan senantiasa lurus di jalannya, hingga ajal menjemput kita. Ya Allah jadikanlah sisa umur ku menjadi sisa umur yang barokah. Menjauhkan diriku dan keluargaku dari siksa api neraka.

Allah berfirman, Hai orang - orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai ( perintah ) Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”, [Q.S. At-Tahrim/66: 6].

Dan apabila datang ajal kita, semoga kita dimatikan dalam keadaan khusnul khatimah, dengan tidak membawa noda kesyirikan sedikit pun di hati kita. Sesungguhnya kematian adalah bukan akhir segalanya. Dua yang akan kau tuju setelah kematian yaitu surga dan neraka. Semoga kita semua membawa hati yang selamat menuju hari di mana kita akan menuai atas segala perbuatan di dunia. “(Yaitu) hari di mana tidak berguna lagi harta dan anak-anak kecuali mereka yang datang menemui Alloh dengan hati yang selamat (selamat dari kesyirikan dan kotoran-kotorannya).” [Q.S. Asy Syu’ara: 88,89]

* Catatan kecil seorang hamba–Mu di sisa umur menunggu kematian. Tulisan ini aku tujukan terutama untuk istri ku tercinta Lady Ayuanda Caveline dan keluarga ku serta orang – orang yang ku cintai. Sesungguhnya ku mencintai kalian karena Allah azza wa jalla. Semoga catatan kecil ini membawa ridha Allah azza wa jalla dan membawa kebaikan bagi yang membacanya. Allahuma Amin.

Abu Abdillah Ahmad (Bhima Wahana)

Kita Termasuk yang Mana…?

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,

Di antara tanda kebahagiaan dan keberuntungan, tatkala ilmu seorang hamba bertambah, bertambah pulalah sikap tawadhu’ (rendah hati) dan kasih sayang yang dimilikinya; setiap kali bertambah amalnya, bertambah pula rasa takut dan waspada di dalam dirinya[1]; tatkala bertambah umurnya, berkuranglah ketamakannya terhadap dunia; tiap kali hartanya bertambah, kedermawanannya pun bertambah; setiap kali kedudukan dan martabatnya bertambah tinggi, maka bertambah pula kedekatannya dengan manusia, dirinya akan semakin memperhatikan kebutuhan mereka, dan merendahkan diri di hadapan mereka.

Di antara tanda kebinasaan seorang, tatkala ilmunya bertambah, bertambah pula kesombongan dan keangkuhannya; tiap kali amalnya bertambah, bertambahlah ‘ujub (bangga diri) dalam dirinya, semakin meremehkan orang lain, dan justru memandang baik dirinya; tatkala umurnya bertambah, ketamakannya terhadap dunia justru semakin bertambah; tiap kali hartanya bertambah, bertambah pula sifat kikir yang dimiliki; setiap kali kedudukan dan martabatnya bertambah, bertambah pula keangkuhan dan kecongkakannya.

Seluruh hal di atas merupakan cobaan dari Allah yang diperuntukkan kepada para hamba-Nya. Di antara mereka ada yang beruntung, sebagian yang lain justru celaka.

Demikian pula dengan kemuliaan, seperti kerajaan, kekuasaan, dan harta, semua adalah cobaan. Allah ta’ala berfirman,

فَلَمَّا رَآهُ مُسْتَقِرًّا عِنْدَهُ قَالَ هَذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ (٤٠)

“Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: “Ini termasuk kurnia Rabb-ku untuk mencoba aku, apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya).” (QS. An Naml: 40).

Demikian pula kenikmatan, semua adalah cobaan dari-Nya sehingga akan nampak siapa yang bersyukur dan siapa yang kufur (ingkar). Sebagaimana musibah juga cobaan dari-Nya, karena Dia menguji para hamba dengan berbagai nikmat dan musibah.

Allah ta’ala berfirman,

فَأَمَّا الإنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ (١٥)وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ (١٦)

“Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dirinya dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, Maka dia akan berkata: “Tuhanku telah memuliakanku”. Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu mempersempit rizkinya, maka dia berkata: “Tuhanku menghinakanku.” (QS. Al Fajr: 15-16).

Maksud dari ayat di atas, tidak setiap orang yang Aku lapangkan rizkinya dan Aku beri kesenangan duniawi, maka hal itu merupakan bentuk pemuliaan-Ku terhadapnya. Dan tidak setiap orang yang Aku persempit rizkinya dan Aku uji dengan kemiskinan, maka hal itu merupakan kehinaan baginya.

Waffaqaniyalahu wa iyyakum.
Diterjemahkan dari Fawaaidul Fawaaid hal. 403-404
Gedong Kuning, Yogyakarta, 23 Rabi’uts Tsani 1431.

Penulis: Muhammad Nur Ichwan Muslim

Artikel www.muslim.or.id

[1] Demikianlah sifat orang beriman, yaitu tatkala mengerjakan amal, mereka tidak lantas berbangga diri dengan amal yang telah dikerjakan. Hal ini diterangkan Allah ta’ala dalam firman-Nya di surat Al Mukminun: 60 (yang artinya), “Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa). Sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka.”

Ketika mendengar ayat ini, ‘Aisyah radhiallahu ‘anha bertanya kepada rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “(Mengapa mereka khawatir setelah beramal?), apakah mereka orang-orang yang meminum khamr dan mencuri?” Nabi pun menjawab, “Bukan, wahai anak Ash Shiddiq. Mereka adalah orang-orang yang berpuasa, shalat, dan bersedekah, meskipun demikian mereka khawatir sekiranya amalan tersebut tidak diterima oleh-Nya.” (HR. Tirmidzi: 3175).